Ada hal-hal dalam agama yang kita terima begitu saja dengan sepenuh hati karena kecintaan kita pada agama (Alloh dan Rasulnya, semoga damai selalu menyertainya-sallallahu ‘alaihi wasallam) itu sendiri. Misalnya seperti keberadaan Alloh swt itu sendiri, serta banyak hal-hal gaib yang tidak bisa kita buktikan karena keterbatasan pengetahuan kita itu sendiri. Namun ilmu dan perbuatan mulia akan membuat derajad keberagamaan kita menjadi lebih tinggi.
Ilmu menjadikan kita tahu akan sesuatu dan memahami gejala sebab akibat. Ilmu membuat kita mampu memilih yang terbaik sehingga mampu dan bertanggungjawab untuk bertindak adil. Ilmu bisa membuat perasaan kita jadi berkembang dan peka. Ilmu membuat cakrawala pandangan kita jadi luas. Dengan ilmu kita bisa memahami gejala alam dan hukum alam atau sunnatulloh. Ilmu itu pula yang membedakan kita dari binatang.
Darimana datangnya ilmu? Ilmu adalah salah satu atribut Alloh yang telah diberitakan ke kita melalui apa yang disebut asma’ul husna, atau 99 asma/atribut tentang Alloh. Kecuali para nabi dan orang-orang pilihan Alloh, manusia kebanyakan tidak mengalami proses menerima ilmu ini dari Alloh melalui utusanNya. Lalu bagaimana kita menerimanya?
Ilmu hanya bisa kita peroleh melalui proses belajar. Ada dasar-dasar yang harus terpenuhi agar proses belajar ini menghasikan sebuah ilmu. Yang terpenting dari itu semua adalah sebuah pikiran yang jernih, kritis dan terbuka yang siap untuk mengolah dan menyerap informasi yang berasal dari proses belajar tersebut. Sebelum indra kita memverifikasinya baik melalui olah pikiran maupun pennyerapan melalui sebuah pengalaman atau percobaan, sebuah informasi hanyalah informasi.
Orang pertama yang menurunkan ilmu pada kita adalah orang tua kita sendiri, terutama ibu. Tak terkecuali orang yang ditinggal mati ibunya sewaktu melahirkan karena rangkaian informasi mendasar telah diwariskan dalam bentuk DNA yang pada dasarnya merupakan kumpulan informasi yang kita warisi dari orang tua kita.
Pada saatnya kita menjadi orang tua atas anak-anak kita sendiri, kitapun akan berperan sebagai penerus informasi ini. Meneruskan informasi yang baik dan mengajari anak-anak akan segala sesuatu merupakan tanggung jawab yang pada akhirnya akan membawa keuntungan pada orang tua itu sendiri. Menjadi guru pada anak-anak kita bagaikan investasi. Bahkan investasi ini akan terus memberikan manfaat meskipun kita telah meninggal. Hanya orang tua yang berhasil mewariskan ilmu dan pengetahuan yang akan menikmati manfaat doa anak-anaknya yang sholih dan sholihah.
Tanpa ilmu, kita tidak akan mampu membimbing anak-anak kita menjadi orang-orang yang sholih dan sholihah. Hanya orang yang berilmu pula yang bisa menghormati orang tua dan guru-gurunya.
MSU
AUH 27 Dec 2007
No comments:
Post a Comment