Pagi ini, ada teman sekantor yang kebetulan adalah orang lokal yang baru balik dari ibadah haji. Dia cerita bagaimana menakjubkannya selama disana. Kebetulan yang diceritakan adalah mengenai takjubnya dia melihat lebih dua juta orang ditempat yang sama, bukan takjub pada ibadahnya itu sendiri.
Ada satu hal yang mengusik perhatian saya. Ketika teman satu ruangan menanyakan bagaimana selama disana, dia menyebutkan bahwa selama disana segala sesuatu berjalan relatif lancar. Tapi karena jamaah haji berasal dari berbagai latarbelakang, masih banyak jamaah yang susah diatur terutama yang latar belakang pendidikannya rendah dan orang-orang dari dunia ketiga, imbuhnya. Ketika menyatakan hal itu, ada suatu sorot mata yang sepertinya menahan rasa tidak enak sama saya. Mungkin dia lupa sebelumnya kalau saya dari Negara yang dikategorikan dunia ketiga ini. Sebuah kategorisasi yang sangat arogan dan tidak manusiawi.
Kali ini saya tidak tertarik merenungkan masalah kategorisasi dunia ketiga ini. Tapi ada hal yang sangat mendasar yang menjadi syarat mabrurnya ibadah haji, yaitu perasaan dan hati yang bersih dan ihlas selama ibadah haji berlangsung, yang telah telah dilanggar. Dengan menyebutkan bahwa orang-orang dari dunia ketiga tadi susah diatur, menurut saya, syarat mendasar tadi tidak terpenuhi. Syarat ini memang sangat mudah diucapkan dan dipahami, sangat sederhana tapi sangat sulit untuk diterapkan. Hanya orang dengan ahlak yang baik yang bisa menerapkannya.
Kebetulan beberapa jumat yang lalu, khatib favorit di salah satu masjid di Al Khalidiya, yang dari logat bahasanya seperti berasal dari Amerika Utara mengupas masalah karakter mulia ini. Pada saat itu pula saya pertama kali memahami apa maksud dari kata ahlak yang sering kita dengar. Ahlak yang merupakan bahasa arab, diterjemahkan dengan pas sebagai karakter.
Untuk mencapai suatu tahapan karakter yang baik, seperti yang dicontohkan dan diajarkan Rasululloh SAW, memerlukan suatu proses yang tidak pernah henti. Dibutuhkan suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai kualitas karakter atau ahlak yang baik. Karakter yang baik tidak datang begitu saja seperti sebuah hadiah, namun harus diusahakan dan dipelajari yang kemudian akan tercerminkan dengan sendirinya dalam tigkah laku kita. Bukankah Rasululloh SAW ini tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan karakter manusia ini?
Sebuah syarat yang sangat sederhana, tapi membutuhkan usaha seumur hidup untuk mencapainya. Tak heran hanya segelintir orang-orang yang hajinya mabrur dan tak heran pula imbalan haji mabrur begitu tingginya. Mungkin orang yang sudah mencapai kualitas karakter yang baik tidak akan pernah menulis uneg-uneg seperti ini....
MSU/AUH/6Jan08
No comments:
Post a Comment