Pages

My Blog List

Wednesday, February 25, 2009

From The International Day...





Ada banyak peristiwa yang terlewat untuk dibagi dalam blog ini. Diantaranya adalah international day di sekolah Wisang, pertengahan November kemarin. Mungkin bagi sebaian orang tidak ada yang istimewa,karena isinya cuma stand dari berbagai negara yang merupakan representasi dari murid di sekolah Wisang. Dan even ini cuma ada untuk elementary school saja. Murid-murid yang gede udah pada males kali ya. Atau mungkin ibu2nya yang males, karena di sekolah Wisang, kalau ada event yang repot pasti para orang tua, terutama ibu-ibunya. Nah, sama seperti international day ini juga. Sejak awal, ibu sudah didaulat oleh pengurus PTO untuk bikin stand Indo, karena selama ini belum pernah ada. Ibu sih cuma hehe...hehe...aja (wah, nggak kebayang de nyiapin stand, njagain tur beres2 sendiri sambil ngurus Nisrina dan ngawasin Wisang). Masalahnya di sekolah Wisang yang orang Indo cuma 2 keluarga, keluarga kami dan budhe Nunuk. Sementara budhe Nunuk kerja. Jadi ibu tahu diri lah, nggak mungkin ngerepotin beliau karena selain bekerja kan masih harus ngurus suami dan 2 anak di rumah....kurang kerjaan kali nyambi bikin2 pernak2 buat stand kita...



Akhirnya ibu pun bener2 nggak buka stand. Padahal ada yang udah pesen sambel terasi...hehehe.. (ada ya ternyata bule yang suka sambel terasi, ngefans lagi). Jadi kita pun cuma penonton saja.



Ternyata jadi penonton malah asyik. Bisa muter2 ke semua stand dan lebih santai. Dan tentu saja, tujuan utama ibu hunting makanan di tiap stand pun tercapai lah karena waktunya sangat mencukupi. hehehe....Teman-teman ibu sampe bengong melihat isi piring ibu loh, bertumpuk-tumpuk...hehehe... Sayangnya makanan itu akhirnya malah nggak kemakan, hiks...ibu malah nggak berselera karena kecapekan antre dan berdesakan. Wisang sih sibuk ngajakin nyari ice cream gara2 ada Luis yang udah asyik duluan menjilat2 ice cream....bahkan waktu udah dapet ice cream favoritnya, sampe lupa nyapa Natalia, salah satu teman favoritnya....
Di event ini, standnya lumayan lengkap loh, US (tentu aja, karena ini american school....hehe...), kanada, jerman, belanda, jepang, korea, thailand, india, pakistan, skandinavia, italy, portugal, spain, mexico, venezuela, uruguay, brazil, mmm..mana lagi ya...lupa...banyak banget sih.... selain stand negara, disini ada juga stand nya restoran Kansas, yang di restoran aslinya selalu penuh dan antre di tiap jam2 makan.

Disini yang dijual cuma makanan, titik. Termasuk coklat, dan minuman tentu saja. Kita belinya pake kupon, per lembar 1 peso. Harga makanan di stand2 ini rata2 2-3 peso. Tapi ada beberapa yang lebih sih, seperti burger dan pasta yang harganya 5 peso. Diantara stand2 itu tentu saja ada beberapa stand yang jadi favorit, yaitu stand Mexico, Italy (ya iya lah, siapa juga yang nggak kenal pasta dan pizza...) dan stand Kansas Resto tentu saja. Gila bo...antrenya kayak ular. Ayah si Benjamin aja harus antre 2 jam lebih untuk mendapatkan chicken burger di stand Kansas Resto. Kita sih, melihat panjangnya antrean aja udah langsung nggak laper. Untung mas Wisang dan dek Nisrin udah maem sebelum berangkat, jadi aman lah.... Trus adek juga bobok terus hampir sepanjang waktu kita disana, baru bangun pas kita udah mau pulang. Harapan kita cuma tinggal stand Thailand. Soalnya waktu berangkat tadi, stand nya masih utuh belum tersentuh. Mungkin karena letaknya yang agak nyempil kali yaa...jadi agak jauh dari jangkauan para pemburu makanan..hehehe.. Jadi kita memutuskan, nanti saja pas pulang sekalian mampir beli makanan di stand Thailand. Tapi olala....pas lewat, stand nya udah hampir tutup, semua jualannya udah ludes, tinggal 8 potong spicy chicken wing yang mm...yummy kayaknya...dan waktu itu ada 1 orang pembeli lain yang udah nongkrong duluan..hiks... Ibu cuma saling pandang sama si ibu pembeli satunya...hehe...siapa yang dapet ya.... Ternyata dia cuma nyari mie goreng, dan ternyata masih ada tersisa 2 bungkus. Dan ibu langsung cepet2 memesan chicken wing itu, semuanya sekaligus...hehehe...dan ternyata rasanya memang yummyyyy...tenannnn....

Hmmmm...akhirnya pulang deh kita dengan perasaan lega (karena dapet stok makan siang...hehehe....). Dan ayah dengan nggak sabaran ngajak kita buruan soalnya Manchester United mo main setengah jam lagi.....hehehe...




Tuesday, February 17, 2009

Becoming Parents


Menjadi orang tua memang bukan perkara mudah. Banyak hal yang perlu dilakukan selain mencukupi anak2 dengan kebutuhan-kebutuhannya yang kita pikir memang mereka butuhkan. Tetapi yang paling penting adalah mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa-masa selanjutnya. Saya dan suami tentu saja sangat menyadarinya, jadi kami sudah banyak berbicara tentang anak bahkan sejak kami belum menikah. Dan terus kami bicarakan setiap ada momen, momen kehamilan, momen kelahiran, awal masuk sekolah dll. Karena saya ingin kami punya visi yang sama terutama tentang anak. Bagaimanapun satu hal penting menjadi orang tua adalah kekompakan dan visi yang sama untuk menjaga konsistensi sikap yang kita miliki terhadap anak-anak kita.

Saya teringat ketika mendampingi seorang dosen saya yang mengkonseling satu pasangan ortu yang anaknya bermasalah. Beliau bertanya pada si ortu tentang konsep mereka sebagai orang tua (saya terdiam, wah kalo saya ditanya bingung jg tuh, konsep gmn ya maksudnya). Si ortu bengong, kaget malah kelihatannya, trus jawabnya juga agak tergagap, nggak siap ditanya begitu kelihatannya. Dan saya lupa apa jawaban si ortu. Tapi momen ini membuat saya berpikir. Wah, suatu hari saya akan menjadi ibu, ibu yang bagaimanakah saya?

Momen lain adalah ketika saya dan sahabat-sahabat jaman kuliah saya menghabiskan sore sehabis hujan di sebuah warung ayam goreng di pinggir selokan dekat kampus. Waktu itu sudah menjelang akhir kuliah, sudah jarang ke kampus. Seperti biasa sambil makan kami berbicara seputar teman, kampus, dan tentu saja masa depan, karena kami sudah hampir lulus waktu itu (kecuali saya, yang lulus paling lama, hahaha....). Pembicaraan menjadi serius setelah kami selesai makan. Topik utamanya adalah menjadi ibu dan kami menebak satu sama lain akan menjadi ibu yang seperti apakah si A, B, C dst. Ketika sampai pada giliran saya mereka malah terdiam. Salah satu dari mereka bilang,"Wah, aku nggak bisa menebak akan jadi ibu seperti apa ya si Loubna." Lalu teman yang lain bertanya," Memangnya dalam bayanganmu, kamu akan jadi ibu seperti apa Loub?"

Saya juga terdiam. Teman-teman saya pun tak bisa menebak, apalagi saya....habis masih jauh, pikir saya waktu itu. Padahal kami sudah saling mengenal satu sama lain selama hampir 4 tahun. Parahnya saya bisa menebak dan membayangkan setiap teman yang hadir waktu itu, akan jadi ibu seperti apa. Si A yang tegas, si B yang kompromis, si C yang cerewet, hehehe.....tapi saya bingung membayangkan tentang sosok ibu untuk saya sendiri. Saya juga lupa jawaban saya waktu itu, dan toh saya pikir saya menikah masih lama. Saya ingin bekerja. Tapi ternyata saya termasuk yang paling cepat menikah diantara kami. Dan langsung menjadi ibu, karena 2 bulan setelah menikah saya positif hamil, hahaha.... Memang kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok....

Momen terakhir adalah ketika saya ngumpul-ngumpul dengan beberapa teman weekend kemarin. Seperti biasa kalo ibu-ibu ngumpul hal yang hangat dibicarakan adalah anak-anak. Sekalipun anak-anak kami berbeda usia tapi tak jadi masalah. Salah satu teman saya bercerita tentang anaknya yang baru saja mendapat award best student semester kemarin. Dan mereka diundang ke sekolah, menjadi tamu kehormatan, dsb, dsb. Wah, tentu sangat membanggakan mejadi orang tua dari anak-anak berprestasi. Saya ingat, teman saya ini juga bercerita, setiap anaknya bertanya ibu ingin aku jadi apa, teman saya akan menjawab, whatever you wanna be, but I want you do the best and be the best in whatever you choose.

Saya kemudian berpikir (untuk ke sekian puluh kalinya), apakah saya juga ingin melakukan hal yang sama terhadap anak saya, menekankan anak saya untuk selalu berprestasi dan menjadi yang terbaik? Saya tidak memungkiri, orang tua mana yang tidak akan bangga akan anak yang berprestasi?

Lalu saya pun berbicara dengan suami saya. Kami memang sudah punya prinsip2 tentang pendidikan bagi anak kami, tetapi cerita teman saya menggelitik saya sekali lagi tentang bagaimana sudut pandang suami saya. Pendidikan agama dan moral, itu yang terpenting bagi kami. Dan ini berusaha kami penuhi di rumah, karena kami tinggal di negara non muslim dan kami tidak bisa mengandalkan orang lain disini, tidak seperti di Indonesia yang penuh dengan mesjid dan TPQ.

Salah satu hal yang membekas dari kata-kata suami saya adalah, lha kalo nggak bisa nomer satu trus gimana (tentu saja suami saya menjawabnya dengan bahasa jawanya yang khas, bukan bhs indo, aplg inggris...hehehe). Cepet bersinar, cepet pudar.

Well, saya jd teringat juga tentang cerita Goleman (emotional intelligence) bahwa riset menunjukkan anak2 yang berprestasi di awal-awal pendidikan mereka justru menjadi biasa saja di masa depan mereka. Justru anak-anak yang biasa-biasa saja malah menjadi cemerlang dan berhasil. Lalu saya juga teringat sebuah talk show para penerima hadiah nobel fisika. Ketika ditanya tentang masa apa yang menurut mereka paling krusial mengantarkan keberhasilan mereka, mereka jawab, masa di perguruan tinggi. Saya juga jadi teringat tentang Thomas Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena terlalu bodoh.

Tapi tentu saja tidak semua anak adalah anak yang jenius seperti Bill Gates, atau Thomas Edison, atau bahkan Mark Zuckerberg yan tetap sukses meskipun drop out. Dan tidak semua ibu bisa menjadi seperti Nancy Edison yang sukses mengajar anaknya di rumah.

Bagi saya, anak-anak saya bagaimanapun akan tetap istimewa. Karena mereka lah yang dipilihkan dan dipercayakan Tuhan kepada saya. Yang terpenting adalah berusaha memastikan bahwa mereka menjadi manusia yang bahagia. Dan seperti layang-layang, kami tidak akan menariknya terlalu kencang agar tak terbang jauh dari kami atau terlalu kendor sehingga mereka jatuh dan tersuruk di tanah.

Thursday, February 5, 2009

Diantara Kota-Kota.....







Dulu kami tak pernah terpikir akan menjadi begitu mobile (baca=pindah2 melulu). Dan di setiap kota yang pernah kami nikmati tentu saja memberi kesan yang berbeda. Dan jujur, sampai sekarang, diantara semua kota yang pernah ibu tinggal, jogja tetap yang paling ibu cinta. Hehehe... Entah kenapa, romantisme jogja dan suasana jawanya yang begitu kental serta tentu saja kehidupan berkeseniannya. Benar seperti kata seorang teman ketika ibu dulu hendak berangkat ke jakarta: Yang paling susah adalah mencari komunitas, Loubna. Yang bisa mewadahi segala geliat kita. Tempat tinggal bisa dimana saja.....




Ya, tempat tinggal bisa dimana saja, asal orang-orang yang kita cintai mengelilingi kita. Yang paling nyaman tentu saja berkumpul bersama. Karena itu, berpindah-pindah pun tak jadi masalah. Toh kita pun jadi tahu banyak tentang kota-kota....




Setiap kota memiliki bau yang berbeda, wajah dan tarian yang berbeda serta keramahan yang berbeda. Bau sisha di taman saat musim gugur di abu dhabi, tango dan suara cello di florida, buenos aires dan kehangatan persahabatan di duri....



Membaca salah satu blog seorang teman, ibu jadi terpikir untuk menuliskan apa yang paling ibu suka dan paling tidak suka di setiap kota. Dan inilah dia:



Duri


- Mall? Hehehe...sabar ya....tunggu kalo pulang ke jawa, pas ke jkt ato pas ayah dapet wahyu ke pekanbaru...


- WC umum? Hmm...Wisang deh yg paling rewel, aplg kalo bau....hehehe...


- Tinggal belanja aja ke warung pak Edy comissary ato warung MAU ato si kakak penjual sayur yg lewat di blkg rumah, top deh....


- Taksi? Tinggal telpon aja, meski kadang musti nunggu lama


- Di komplek bersih juga kok, asri (panas sih, tapi kan deket hutan, banyak pohon2), alarm paginya kicau burung di jendela, suara2 monyet, kadang malah bs wisata ntn gajah....


- Jelas nggak macet lah ya, kecuali kalo lewat sekolah2 cendana pas bubaran sekolah


- Supir taksinya baek jg, kadang malah mau nganter sampe masuk halaman blkg pas belanjaan segunung


- Kangen banget sm kue2nya mbak rin. empek2 weny, menu arisan campur2, undangan makan dr tetangga idaman, bakar2 ikan bareng...uh..uh...seruuu


- Musik? hehehe....dream theater koleksi ayah di rumah kita yang kuenceng mbak Asih, tetangga kita, bengong pas nganter tahu isi, hehehe...


- Pantai? Tanjung kodok dan Parangtritis pas kita pulang kampung...hehehe...


- Aman juga, kecuali pencuri kelapa sawit yang selalu tahu kapan pohon2 sawit kita dah waktunya panen...hihihi..



Abu Dhabi



- Mall yg lengkap dg musholla, tempat wudlu, kran air minum dimana2



- Selalu ada shower kecil di toilet



- Gampang nyari kangkung, tempe, etc, dan nggak mahal jg



- Tak ada bus, kereta aplg subway, harus puas dg taksi yang sll menghilang pas jam2 sholat dan kadang nggak mau brenti kalo liat kita bawa stroller bayi...hiks



- Bersihhhh...



- Nggak ada macet, ruas jalan super duper gede



- Supir taksi yang kayak pembalap, ugal2an, nggak sabaran....huhuhu...



- Semua dijamin halal...hehehe..., merk fav jg jual rok2 panjang, blus lengan panjang, hmmm....



- Musik? Apa ya...Ummi Kultsum kali ya...hehehe...



- Kangen euyyy, jogging tiap jum'at dan sabtu pagi di sepanjang trotoar pantai corniche...huhu..., cm 5 menit dari rumah



- Aman bo....

Buenos Aires



- Jangankan musholla....mesjid aja cuma 1



- Cebok? Harus puas pake tissu lah ya....



- Bbrp sayuran dan cabe menghilang dari pasaran saat winter, kalo ada pun cm di bario chino



- Taksi, bus, kereta, subway kumplit, cucok lah sama awak yg nggak bs nyetir



- Taman, trotoar dan semua sudut yg penuh kotoran anjing



- Nggak macet juga



- Punya bayi? Wah dijamin nyaman deh, antre diduluin, dibantuin, dikasih tmpt duduk di bus, dll



- Hmm...kalo jalan2 susah nyari maem yg halal, pilihan terbatas, baju, sepatu semua jg mahal, hiks...



- Banyak pelukis, pemusik dan pertunjukan jalanan yg menarik, banyak museum jg...baguss



- Pantai? Hmmm....harus keluar kota dulu...



- Pengemis, pencopet, hampir sama deh sama di Indo





Hmmm...kayaknya musti inget2 lagi, kenangan2 yang terserak. Hehehe...nanti ditambahin lagi....


















Summer time!!






Yup, disini sedang summer sekarang. Sementara di belahan bumi yang lain sedang musim dingin. Tapi summer disini ternyata nggak panas2 amat. Masih kalah lah sama di Surabaya, apalagi Duri pas tengah hari. Wuihhhh....jadi inget dulu waktu di Duri kalo ngangkat jemuran selalu nunggu setelah jam 3 sore, karena saking nggak kuat sama panasnya. Apalagi kalo pas musim asap. Huaduhhh.....masker pun tak mengatasi. Jemuran asal tarik deh pokoknya, yang penting cepet masuk rumah dan tutup pintu rapat2.






Disini kegiatan weekend kita kalo summer, berenang!! Hehehe.... Soalnya sejak awal, waktu survey apartemen dulu, yang paling bikin ibu ngiler adalah kolam renangnya (selain balkon full kaca yang bisa sepuasnya menikmati view kota buenos aires....). Guede, serasa di hotel. Hehehe... Wisang dan Nisrin pun selalu tak sabar, bangun pagi2 dan bersiap ke kolam renang. Trus, disini sedang musim hujan juga. Tapi hujan disini paling cuma sebentar dan tidak selebat hujan di Indonesia.




Cuaca disini memang cepat sekali berubah. Mungkin karena itu, orang-orang disini rajin mengikuti prakiraan cuaca. Soalnya disini, kadang hari ini panas, ee...tiba2 besok dingin dan mendung, atau kadang malah hujan. Jadi kita juga akhirnya ikutan rajin ngikutin berita cuaca setiap pagi. Sama seperti waktu masih di Duri, kita juga suka merhatiin tulisan kecil di tv kita tentang tingkat keparahan asap hari itu.




Dan disini, sekolah libur waktu summer. Mulai awal Desember dan masuk kembali 1 Maret. Sementara sekolah Wisang, yang mengikuti kurikulum US cuma libur sampai awal Februari. Jadi sejak tanggal 2 kemaren Wisang sudah mulai masuk sekolah.






Thursday, November 13, 2008

Makanan Favorit






Wisang dan Nisrin sudah bisa menentukan seleranya sendiri sekarang. Termasuk masalah makanan. Ini yang bikin ibu pusing. Karena dalam sehari ibu harus memasak 3 kali, pagi (kalo yang ini cuma yang simple2 aja sih...andalan Wisang adalah telur ceplok plus kecap untuk sarapan..hehehe...), siang dan malam untuk ayah. Well, kadang2 untuk makan malam ayah sih yang masak, kecuali kalo ayah les spanish, 2 kali seminggu, karena les spanish ayah mulai jam 18.30 sampai jam 20.00. Plus bikin roti tawar seminggu dua kali untuk sarapan ayah dan marmalade (yang ini kalo niat). Sebenarnya untuk Wisang sudah makan siang di sekolah, tapi teuteup, pulang sekolah seringkali masih minta makan siang.


Waktu ibu tanya: "Lho, mas Wisang tadi di sekolah belum makan?". "Sudah sih, tapi maem di rumah lebih ueeeenaakkk...", jawab mas Wisang dengan mulut penuh nasi. Hehehe...


Jadi, ibu tetap harus sedia makan siang buat mas Wisang. Favorit mas Wisang dan adek Nisrin adalah soto ayam, sayur bayam, sayur sop. Lauknya udang atau ayam goreng tepung. Kadang-kadang sih mereka mau makan opor (yang sudah ibu campur wortel, kentang dan green peas atau buncis, hihihi..). Tapi adek Nisrin punya favorit yang lain, salmon steak, yang juga favorit ayah. Hmm...mereka juga mau sih makan pasta, spaghetti bolognese terutama atau pake saus putih yang dicampur ayam atau udang.



Sebenarnya mas Wisang dan adek Nisrin bukan tipe yang susah banget makan. Soalnya sejak kecil ibu membiasakan mereka makan apa aja. Sehingga mereka nggak pilih-pilih masalah makanan, kalo ada yang baru pun mereka mau nyobain. Terutama sayuran dan ikan (karena ayah hobi banget makan ikan, jadi hampir setiap hari kita makan ikan). Nggak boleh menolak, kalo berani bilang tidak, ibu bakalan duduk sambil melototin mereka sampai mereka selesai makan (pokoknya maksa deh intinya...hehehe...).


Adek Nisrin juga hobi banget makan buah. Hampir semuanya deh. Terutama strawberry, anggur, jeruk, apel, dan pear. Untuk mas Wisang ditambah pisang. Kadang-kadang malah mas Wisang bawa bekal buah buat ke sekolah. Kalo makan apel dan pear, mereka selalu minta dikupas dan dipotong-potong dulu, trus ditaruh di mangkuk masing-masing. Kadang-kadang punya dek Nisrin sudah habis duluan, dan dek Nisrin bakalan nyuri-nyuri punya mas Wisang. Kalo udah gini, yang ada perang deh. Ribut, teriak, dan akhirnya salah satu (ato bahkan kadang keduanya) nangis. Ibuuuuuu......!!!! Hehehe....


Kadang-kadang, pas weekend dan lagi rajin, ayah bikin pizza, yang hmmm...yummy. Mas Wisang dan adek juga lumayan suka. Adek malah kadang-kadang cuma nyomotin olive-nya aja. Sementara mas Wisang malah menyisihkan semua olive yang ada di potongan pizza-nya....

Tuesday, November 4, 2008

Nisrina


Nisrin sudah mulai cerewet sekarang. Awalnya kami sempat khawatir, karena belum genap 2 tahun dia tinggal di 3 tempat yang berbeda, dan tentu saja dengan bahasa yang berbeda. Sehari2 dia mendengar 4 bahasa: jawa (saya dengan ayahnya), indonesia, inggris, dan spanyol (sekarang). Bahkan sebelumnya dia juga mendengar bahasa arab ketika kita di abu dhabi. Jadi perkembangan bicaranya agak terlambat dibanding Wisang yang sudah mengucapkan kata pertamanya (lampu), waktu dia 7 bulan. Tapi alhamdulillah, kemampuan berbicaranya berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Dan karena dia mendengar bahasa yang berbeda2, bahasanya pun jadi campur. Misalnya kadang dia jawab ya, kadang yes, kadang si.

Tapi dia paham lho, siapa2 teman kami yang tidak paham bahasa indonesia. Akhirnya dia menciptakan bahasa khusus untuk mereka, yang tak satupun dari kami mengerti artinya. Karena bunyinya kurang lebih begini:klklklkklkbbnbnb....yes atau klklklklbbbdklkld...si? Hehehehe....

Itu 1 bulan yang lalu. Sekarang dia paham beberapa kata dalam bahasa inggris dan spanyol. Seperti mira! (spanyol), look!, esto no?, this, it's me, thank you, gracias, adios, bye, cau, dan beberapa kata lain. Jadi ketika bertemu teman2 kami yang bukan indo bahasa karangannya ditambah dengan beberapa kosa kata baru itu tadi. Lumayan, sudah berkembang...hehehe...
Oh ya, sekarang dia juga mulai tertarik pada make up, karena ngeliat ibunya kali ya.... Dan jadilah make up ibu yang jadi korban eksplorasinya. Tercatat sudah ada beberapa lipstik , eye shadow dan pensil2 yang tak layak pakai berkat kreasinya :(. Favoritnya adalah lip moisturizer rasa melon yang selalu dia minta untuk dioleskan ke bibirnya sebelum berangkat pergi. Dia juga sudah bisa menentukan pilihan sendiri ketika kita membeli atau memakai sesuatu. Barang favoritnya adalah semua yang bertema princesa (tipikal cewek banget yaa???hehehe). Dan baju favoritnya saat ini adalah kaos putih dengan gambar beberapa kucing dalam berbagai corak dan pose. Baju itu disebutnya baju miaw......

Friday, October 24, 2008

Setelah 6 bulan di Buenos Aires....

Sudah hampir 6 bulan kami tinggal di Buenos Aires, Argentina. Dan kami menikmatinya. Wisang pun sudah mulai sekolah sejak 1 Agustus yang lalu. Dan hari ini adalah parents conferenfe day di sekolah Wisang, pertemuan kami dengan guru-guru Wisang di sekolah untuk membahas progress report Wisang selama 1st quarternya di sekolah. Disini, Wisang kami masukkan ke american school, Lincoln school namanya. Jaraknya sekitar setengah jam naik mobil (kalo tanpa macet) dari rumah kami. Cukup jauh memang, karena letak rumah kami yang di tengah kota dan sekolah Wisang yang di pinggir kota. Tapi karena kami langsung suka dengan sekolah ini ketika pertama kali berkunjung ke sana, jadi kami tetap memutuskan mengirim Wisang ke sekolah ini.
Awalnya cukup berat buat kami, karena saya tidak bisa nyetir sementara setiap hari harus mengantar Wisang ke sekolah pagi-pagi yang berlawanan arah dengan kantor ayah dan tentu saja harus membawa serta Nisrina. Akhirnya kami menggunakan jasa remis (semacam taksi pribadi) setiap hari. Dan tidak seperti ongkos taksi yang murah di Abu Dhabi, disini ongkos taksi mahal. Tapi karena tidak ada piliihan jadi seterusnya kami memakai jasa ini.
Alhamdulillah bulan September Wisang sudah bisa naik bis sekolah, karena kami pikir dia sudah cukup mengenal sekolahnya dan cukup berani untuk berangkat sendiri tanpa saya ke sekolah. Awalnya dia memang selalu memohon untuk naik remis bersama saya seperti sebelumnya tapi akhirnya dia mengerti. Ternyata naik bis setiap pagi cukup membantunya untuk mengimprove social skillnya, bergaul dengan teman2 yang lebih besar di dalam bis sekolah dan juga kemampuannya berbahasa spanish dan inggris. Sayangnya bis sekolah hanya bisa melayani Wisang di pagi hari, jadi saya tetap harus menjemput Wisang ke sekolah bersama Nisrin, dengan remis tentu saja, setiap siang. Karena bis sekolah baru mulai start jam 3.30 sore sementara kelas Wisang di Kinder 4 selesai jam 2 siang.
Tetapi ternyata menjemput Wisang ke sekolah sangat menyenangkan. Karena saya jadi bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak ibu lainnya yang juga menjemput anak mereka, yang berasal dari negara2 yang berbeda. Begitu juga untuk Nisrin, karena disana banyak ibu2 lain yang juga membawa anak2 yang lebih kecil, sehingga mereka bisa bermain bersama (meskipun mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda! Imagine that!). Dan akhirnya saya pun menemukan teman2 yang menyenangkan, bahkan kadang-kadang kami menghabiskan waktu dengan makan siang bersama. Dan kadang kami juga saling mengundang anak2 untuk bermain bersama di rumah.
Well, kembali ke parents conference. Hari ini saya benar-benar terharu. Kalau saja tidak malu, mungkin saya sudah menangis di depan guru-guru Wisang yang saya temui hari ini. Di sekolah Wisang memiliki beberapa guru. Guru di kelasnya (Ms Gimena dan Ms Macky, guru spanish, gym, art dan music). Karena antrian yang panjang akhirnya saya hanya bisa bertemu dengan guru di kelasnya dan guru spanish. Setelah mendengar cerita mereka tentang bagaimana Wisang di kelas, saya benar2 takjub. Ah, ternyata Wisang benar-benar membanggakan. Awalnya dia hampir tidak berbicara bahasa inggris apalagi spanish, tapi sekarang kemampuannya benar2 membanggakan. Selain itu, gurunya bercerita bahwa dia anak yang selalu haus dan antusias untuk belajar. Di awal sekolah, seorang ibu teman Wisang (Luis namanya, orang Portugis), bahkan mengucapkan pujian dan terima kasihnya karena Wisang selalu membantu Luis mengatasi masalah adaptasinya bersama teman2nya dan tidak mau berpisah dengan ibunya.
Ah, menjadi ibu benar-benar suatu anugrah, apalagi ketika mendengar berita baik tentang anaknya....

Sunday, January 6, 2008

Wisang masuk sekolah

Hari ini, tanggal 6 January 2008 jam 8.30 waktu Abu Dhabi, adalah saat pertama Wisang, pangeran kami, masuk sekolah, lebih tepatnya Play Group karena usianya baru 3 tahun 3 bulan dan 13 hari. Untuk sekolah ini, Wisang kami masukkan ke Edu Scan di Abu Dhabi, jaraknya satu blok dari tempat tinggal kami.

Tidak ada anak yang langsung bersemangat ketika pertama masuk sekolah termasuk Wisang. Bahkan ketika masuk perguruan tinggipun sebagian besar orang termasuk saya, akan canggung, takut sendiri dan salah tingkah.

Ketika Wisang harus masuk kelas dan diperkenalkan ke teman-temannya, ibunya tidak boleh ikut, bahkan untuk mengintip saja. Akibatnya Wisang langsung nangis ketika mesti berpisah sama ibunya untuk memulai sekolah. Selama ini, dia hampir tidak pernah lepas dari ibunya, bahkan setelah ada Nisrin pun. Pernah sebentar ketika hari-hari pertama kami menempati tempat tinggal kami di Khalidiya, wisang mencoba tidur sendiri dikamarnya dengan tujuan biar belajar mandiri. Tapi kemudian kami merasa ada sesuatu yang kurang serta sepi dan membawanya tidur bareng lagi. Memang mengajari tidur terpisah dari orang tua mungkin bisa membantu kemandirian seorang anak, tapi itu bukan hal mutlak untuk mendidik anak mandiri.

Wisang anak yang ceria, banyak bertanya dan omongnya juga sangat banyak dan juga suka usil. Dia anak yang cerdas dan sangat bersemangat kalau melihat sesuatu, apalagi yang baru. Tidak terlalu sulit dan tidak terlalu lama buat kami untuk mengajarkan segala sesuatu. Dia mudah beradaptasi dan mudah sekali berteman dengan orang lain. Keberanian dia untuk menirukan bahasa lain selain bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pertamanya, banyak membantunya dalam mempelajari bahasa lain seperti bahasa Jawa yang dipakai ayah ibunya setiap hari dan bahasa Inggris yang dia dengarkan di film-film anak-anak, terutama film Thomas&Friends dan The Cars favoritnya. Memang sudah sepatutnya kita sebagai orang tua untuk menjauhkan diri dari sikap menyalahkan anak selama proses belajar berjalan karena hanya akan membuat kecil hatinya. Sebaliknya, membetulkannya dengan cara terlibat langsung seperti ikut bernyanyi dengan lafal yang benar, akan membantu anak untuk mengingat yang benar.

Wisang anak yang mandiri. Berapa lama dia tidak punya teman bermain sebaya disekitarnya? Cukup lama wisang bermain-main sendiri dan bisa menghibur dirinya sendiri dengan baik. Tentunya kami juga sebanyak mungkin menghabiskan waktu untuk menemaninya. Sekarang, adiknya sudah bisa diajak untuk bermain-main sehingga Wisang sudah punya teman. Dia juga kami ajarkan untuk menghormati dan menyangi adiknya. Mainan yang lagi dipakai adiknya tidak boleh dia ambil sebagai cara mengajari dia untuk menghormati adiknya.

Kami mengajari Wisang mandiri dengan cara memberinya tanggung jawab. Dia harus sebisa mungkin membereskan mainannya ketika selesai. Dia harus menaruh pakaian kotornya ditempat cucian, dia harus memasukkan dan merapikan kembali sepatu dan sandal yang telah dipakai. Bahkan sekarang ini dia memilih untuk menyikat giginya sendiri, memilih serta memakai pakaiannya sendiri.

Kami mendidiknya dengan fleksibel, penuh cinta kasih dan bertanggungjawab. Ada kalanya dia harus dijewer kalau hal-hal prinsip dilanggarnya seperti masalah sopan-santun dan tidak serius ketika belajar. Kami membiarkan dia berbuat apa saja asal tidak membahayakan dirinya dan orang lain dan tidak melanggar norma-norma sopan santun dan agama. Kami tidak akan menuruti permintaannya ketika dia memintanya dalam keadaan emosi atau menangis.

Tiap habis sholat, kami selalu berdoa semoga dia dan adiknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah dan bisa menjadi penerang dan pemimpin orang yang beriman seperti doa yang dianjurkan dalam Al-Quran.

Tak terasa, Wisang sudah berinjak dari usia bayi menjadi anak-anak. Kami bangga padamu Wisang.

AUH-6Jan2008

Karakter yang baik

Pagi ini, ada teman sekantor yang kebetulan adalah orang lokal yang baru balik dari ibadah haji. Dia cerita bagaimana menakjubkannya selama disana. Kebetulan yang diceritakan adalah mengenai takjubnya dia melihat lebih dua juta orang ditempat yang sama, bukan takjub pada ibadahnya itu sendiri.

Ada satu hal yang mengusik perhatian saya. Ketika teman satu ruangan menanyakan bagaimana selama disana, dia menyebutkan bahwa selama disana segala sesuatu berjalan relatif lancar. Tapi karena jamaah haji berasal dari berbagai latarbelakang, masih banyak jamaah yang susah diatur terutama yang latar belakang pendidikannya rendah dan orang-orang dari dunia ketiga, imbuhnya. Ketika menyatakan hal itu, ada suatu sorot mata yang sepertinya menahan rasa tidak enak sama saya. Mungkin dia lupa sebelumnya kalau saya dari Negara yang dikategorikan dunia ketiga ini. Sebuah kategorisasi yang sangat arogan dan tidak manusiawi.

Kali ini saya tidak tertarik merenungkan masalah kategorisasi dunia ketiga ini. Tapi ada hal yang sangat mendasar yang menjadi syarat mabrurnya ibadah haji, yaitu perasaan dan hati yang bersih dan ihlas selama ibadah haji berlangsung, yang telah telah dilanggar. Dengan menyebutkan bahwa orang-orang dari dunia ketiga tadi susah diatur, menurut saya, syarat mendasar tadi tidak terpenuhi. Syarat ini memang sangat mudah diucapkan dan dipahami, sangat sederhana tapi sangat sulit untuk diterapkan. Hanya orang dengan ahlak yang baik yang bisa menerapkannya.

Kebetulan beberapa jumat yang lalu, khatib favorit di salah satu masjid di Al Khalidiya, yang dari logat bahasanya seperti berasal dari Amerika Utara mengupas masalah karakter mulia ini. Pada saat itu pula saya pertama kali memahami apa maksud dari kata ahlak yang sering kita dengar. Ahlak yang merupakan bahasa arab, diterjemahkan dengan pas sebagai karakter.

Untuk mencapai suatu tahapan karakter yang baik, seperti yang dicontohkan dan diajarkan Rasululloh SAW, memerlukan suatu proses yang tidak pernah henti. Dibutuhkan suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai kualitas karakter atau ahlak yang baik. Karakter yang baik tidak datang begitu saja seperti sebuah hadiah, namun harus diusahakan dan dipelajari yang kemudian akan tercerminkan dengan sendirinya dalam tigkah laku kita. Bukankah Rasululloh SAW ini tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan karakter manusia ini?

Sebuah syarat yang sangat sederhana, tapi membutuhkan usaha seumur hidup untuk mencapainya. Tak heran hanya segelintir orang-orang yang hajinya mabrur dan tak heran pula imbalan haji mabrur begitu tingginya. Mungkin orang yang sudah mencapai kualitas karakter yang baik tidak akan pernah menulis uneg-uneg seperti ini....

MSU/AUH/6Jan08

Thursday, December 27, 2007

Tuhan maha adil

Beberapa hari lalu, saya dan ibunya anak-anak berdebat mengenai keadilan Tuhan.
Perdebatan seperti ini sering terjadi ketika anak-anak sudah tidur dan kita berdua juga menjelang tidur malam. Pada waktu itu, ibunya anak-anak bercerita tentang temannya yang hampir tiap tahun pergi ke tanah suci Mekah untuk berhaji atau umroh.

Saya berkomentar bahwa pergi Haji berkali-kali itu tidak banyak manfaatnya dari segi nilai keagamaannya sendiri, apalagi sosial. Pertama karena kewajiban kita hanya sekali untuk menunaikan ibadah Haji. Kedua, banyak fenomena sosial di tanah air yang bisa terselesaikan dengan modal sebesar ongkos naik haji (apalagi kalau pakai plus-plus).

Ibunya anak-anak bilang kalau itu terserah yang punya uang, lalu saya bilang bahwa mungkin karena dia hampir tidak mengalami masa-masa kesusahan materi sehingga tidak berpikiran untuk mengalokasikan dana ongkos naik haji ini untuk kepentingan yang lebih mulia baik dari segi ibadah maupun manfaat sosialnya.

Lalu ibunya wis-nisrin bilang kalau semua orang berpikiran seperti saya, nggak seru, masak semua orang wangi semua, sambungnya. Itu letak adilnya Tuhan, sambungnya lagi. Lalu saya tanya, apa kaitannya dengan keadilan Tuhan dalam hal ini? Saya tidak melihat ada kaitan antara keadilan Tuhan dengan samanya persepsi akan sesuatu. Mungkin ibunya anak-anak mau menjelaskan bahwa Tuhan maha adil, makanya ada yang wangi dan tidak wangi biar saling melengkapi.

Apa bener seperti itu untuk menjelaskan keadilan Tuhan? Saya rasa tidak. Keberagaman memang salah satu hukum alam agar kita saling mengenal. Keberagaman hanyalah salah satu konsekwensi dari hukum alam/hukum Tuhan/sunnatulloh. Sedangkan keadilan Tuhan itu terwujud/terimplementasikan/terejawantahkan dalam hukum alam atau sunnatulloh itu. Tuhan tidak adil kalau misalnya saya melempar batu keatas lalu batunya tidak pernah jatuh sedangkan orang lain melempar keatas lalu jatuh lagi. Disini ada suatu kepastian yang memberi jaminan buat semuanya (termasuk binatang dan tumbuhan) bahwa hukum alam itu berlaku sama.


Keadilan Tuhan terletak pada kepastiannya.

MSU
AUH 27 Desember 2007

Ilmu

Ada hal-hal dalam agama yang kita terima begitu saja dengan sepenuh hati karena kecintaan kita pada agama (Alloh dan Rasulnya, semoga damai selalu menyertainya-sallallahu ‘alaihi wasallam) itu sendiri. Misalnya seperti keberadaan Alloh swt itu sendiri, serta banyak hal-hal gaib yang tidak bisa kita buktikan karena keterbatasan pengetahuan kita itu sendiri. Namun ilmu dan perbuatan mulia akan membuat derajad keberagamaan kita menjadi lebih tinggi.

Ilmu menjadikan kita tahu akan sesuatu dan memahami gejala sebab akibat. Ilmu membuat kita mampu memilih yang terbaik sehingga mampu dan bertanggungjawab untuk bertindak adil. Ilmu bisa membuat perasaan kita jadi berkembang dan peka. Ilmu membuat cakrawala pandangan kita jadi luas. Dengan ilmu kita bisa memahami gejala alam dan hukum alam atau sunnatulloh. Ilmu itu pula yang membedakan kita dari binatang.

Darimana datangnya ilmu? Ilmu adalah salah satu atribut Alloh yang telah diberitakan ke kita melalui apa yang disebut asma’ul husna, atau 99 asma/atribut tentang Alloh. Kecuali para nabi dan orang-orang pilihan Alloh, manusia kebanyakan tidak mengalami proses menerima ilmu ini dari Alloh melalui utusanNya. Lalu bagaimana kita menerimanya?

Ilmu hanya bisa kita peroleh melalui proses belajar. Ada dasar-dasar yang harus terpenuhi agar proses belajar ini menghasikan sebuah ilmu. Yang terpenting dari itu semua adalah sebuah pikiran yang jernih, kritis dan terbuka yang siap untuk mengolah dan menyerap informasi yang berasal dari proses belajar tersebut. Sebelum indra kita memverifikasinya baik melalui olah pikiran maupun pennyerapan melalui sebuah pengalaman atau percobaan, sebuah informasi hanyalah informasi.


Orang pertama yang menurunkan ilmu pada kita adalah orang tua kita sendiri, terutama ibu. Tak terkecuali orang yang ditinggal mati ibunya sewaktu melahirkan karena rangkaian informasi mendasar telah diwariskan dalam bentuk DNA yang pada dasarnya merupakan kumpulan informasi yang kita warisi dari orang tua kita.

Pada saatnya kita menjadi orang tua atas anak-anak kita sendiri, kitapun akan berperan sebagai penerus informasi ini. Meneruskan informasi yang baik dan mengajari anak-anak akan segala sesuatu merupakan tanggung jawab yang pada akhirnya akan membawa keuntungan pada orang tua itu sendiri. Menjadi guru pada anak-anak kita bagaikan investasi. Bahkan investasi ini akan terus memberikan manfaat meskipun kita telah meninggal. Hanya orang tua yang berhasil mewariskan ilmu dan pengetahuan yang akan menikmati manfaat doa anak-anaknya yang sholih dan sholihah.

Tanpa ilmu, kita tidak akan mampu membimbing anak-anak kita menjadi orang-orang yang sholih dan sholihah. Hanya orang yang berilmu pula yang bisa menghormati orang tua dan guru-gurunya.

MSU
AUH 27 Dec 2007

Wednesday, December 26, 2007

Makan nggak makan yang penting kumpul

Baru-baru ini, di sebuah mail-list professional yang saya ikuti, ada pembahasan topic mengenai kenapa Negara kita nggak maju-maju. Saya selalu malas membaca topic-topik yang seperti ini karena hampir selalu tidak ada ujungnya, semuanya berpendapat berdasarkan apa yang dipikirnya betul tanpa melalui pemikiran yang mendalam. Lebih menyedihkan lagi, pembicaraan masalah seperti ini berakhir begitu saja tanpa ada tindak lanjutnya.

Kebetulan saya baca yang terakhir (pada tanggal itu) dari rangkaian perbincangannya. Disitu dibandingkan antara Indonesia dan Cina, kenapa kok cina dengan penduduk yang luar biasa banyak dan sumber daya alam yang biasa-biasa aja bisa maju seperti itu sedangkan Indonesia, yang sering mengklaim karena kebanyakan penduduk sehingga susah mengaturnya, yang sumber alamnya mungkin sebanding dengan cina atau mungkin lebih baik lagi, kok nggak ada kemajuan yang berarti.

Kemudian banyak bermunculan alasan-alasan kenapa bangsa kita kok kalah terus. Mulai dari korupsi, salah management, sampai perilaku budaya disebut-sebut sebagai biang keroknya. Ambil beberapa contoh disitu yang berkaitan dengan budaya. Disitu ada yang menyebutkan bahwa budaya atau perilaku “makan nggak makan yang penting kumpul”, “terlalu menerima”, “banyak anak banyak rejeki” dan sejenisnya, perlu dirubah biar kita punya pandangan yang maju.

Yang menarik perhatian saya, dari contoh-contoh yang dikemukakan tadi, timbul pertanyaan dalam hati dan akal sehat saya: jaman sekarang ini, apa iya orang masih berpikiran seperti itu? Dengan kata lain, saya meragukan bahwa pola pikir atau budaya seperti itu masih dipertahankan sampai sekarang. Mungkin yang menuliskan tadi belum pernah benar-benar menyelami kehidupan orang-orang yang relatif susah hidupnya. Berapa ratus ribu atau bahkan juta tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri mulai dari pekerja domestik (prosentase terbanyak), pekerja perkebunan sampai tenaga kerja profesional di berbagai bidang. Dia mungkin belum pernah membaca, bagaimana gubernur DKI dan Pemkot Surabaya melontarkan himbauan disetiap kali Idul Fitri agar bagi pemudik tidak membawa sanak saudaranya ke kota-kota besar tadi. Bahkan diapun sepertinya tidak menyadari bagaimana ratusan orang meninggal tiap tahun untuk mudik pulang kampung untuk merayakan idul fitri-untuk menggambarkan betapa banyaknya pemudik.

Mereka semua adalah para warga negara yang telah meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan demi menyambung hidup atau mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Mereka memilih merantau daripada memilih tinggal dirumah bersama sanak keluarga handai taulan untuk sekedar “makan tidak makan yang penting kumpul”.

Budaya akan terus berkembang karena itu hasil dari interaksi manusia dengan manusia lainnya dan alam sekitarnya. Dari interaksi tersebut, timbul perilaku yang disepakati yang ujung-ujungnya adalah produk budaya itu sendiri. Dulu ketika jumlah lahan perkebunan dan persawahan masih berlimpah, orang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bercocok tanam dan tidak memerlukan rangkaian perjalanan jauh dari keluarga untuk mencari rejeki.
“Makan tidak makan yang penting kumpul” muncul ketika situasinya tidak memungkinkan untuk mendulang penghasilan yang lebih baik dengan cara merantau, daripada pola hidup bercocok tanam dan beternak di kampung halaman. Semoga akal sehat kita masih bisa menerjemahkan idiom diatas sebagai sebuah pernyataan bahwa kampung halaman jelas menjadi pilihan untuk tinggal dan bekerja dibanding merantau tapi tidak memberikan penghasilan yang lebih baik. Semoga akal sehat kita tidak menerjemahkannya sebagai sebuah pernyataan untuk bunuh diri kolektif karena memilih kelaparan daripada berjauhan dari keluarga.

Baru-baru ini, ada sebuah fenomena yang bisa kita jadikan perbandingan. Di Republik Irlandia, di tahun 1997, penduduk negeri itu hanya sekitar 500 ribu meskipun warga negaranya jauh melebihi angka itu. Artinya adalah mayoritas warga negaranya merantau. Tetapi, di tahun 2007 ini, jumlah penduduk yang tercatat di Negara tersebut melebihi angka 4 juta, sebuah kenaikan yang sangat fantastis. Artinya adalah mayoritas warga negaranya memilih balik kenegaranya untuk bekerja dan bertempat tinggal. Dengan kata lain, telah tersedia lapangan kerja yang sangat banyak dan menarik mereka untuk pulang ke Negara asalnya. Apakah mereka ini juga punya semboyan “makan tidak makan yang penting kumpul”? Jawabannya adalah iya.

Thursday, November 29, 2007

Selamat jalan mbah....

Seperti Sepi

Seperti ribuan badik dihunjamkan tepat di jantungku
Seperti hujan bara mengasapi tubuhku
Seperti menabuh genderang perang bertalu-talu

Oh, dimanakah asa
Yang selalu kupegang teguh kala itu
Dimanakah kesabaran yang kujaga tetap di hatiku
Dimanakah cahaya

Lalu seperti apa laguku
Yang kan kunyanyikan kala nelangsa
Yang kudendangkan pelipur lara

Seperti Kala mengganyang bulanku
Seperti ...sepi.
Ini Jum'at ketiga sejak meninggalnya mbah. Kadang-kadang masih ada nyeri mengingat semua kenangan kecil bersama mbah. Mbah yang merawat ibu ketika sakit dan menyelimuti dengan do'a Ibrahim (alaihis salam), mbah yang mengajari ibu do'a Rabi'ah, mbah yang mencubiti ibu (saat tk dulu) di waktu tidur supaya ibu terjaga dan belajar mengerjakan sholat malam, mbah yang menelpon ibu shubuh2 waktu ibu mulai kos saat sma untuk mengingatkan sekarang sudah masuk waktu puasa bulan rajab, mbah tempat ibu bersandar disaat2 sedih, mbah yang.....
Ah, jasa mbah memang begitu banyak. Tak terbayar. Mudik kita berikutnya pasti tak akan sama lagi....

Wa kullun fii falahin yasbahun

Wa kullun fii falahin yasbahun
Dan kutersadar aku hanyalah hamba
Yang telah ditetapkan maqamnya
Yang telah ditetapkan takdirnya

Wa kullun fii falahin yasbahun
Lalu ku berselimut kabut
Dalam kerinduan menggapai-gapai
MerayuNya dengan seribu pilu
Yang pernah dideraNya untukku
Lalu ku hadapkan tangisku padaNya
Agar terbuka semua pintuku menujuNya

Wednesday, November 28, 2007

Abu Dhabi: One of The Richest Cities in the World

Sudah hampir 6 bulan kita tinggal di abu dhabi. Banyak peristiwa yang kita lewatkan gara2 jauh dari rumah dan keluarga. Meninggalnya Tia, sepupu mas Wisang, dan Mbah Yut selepas lebaran kemarin. Kadang-kadang ada keinginan pulang kembali ke Indonesia, biar bisa dekat teman lama dan keluarga. Tapi...namanya rezeki, ternyata kita masih disuruh merantau disini.
Well, awalnya kita nggak nyaman tinggal disini. Sering diremehin sih. Maklum, wajah Asia, Indonesia maksudnya... Disini kan mostly orang yang ada jadi tkw, that's why awalnya suka sakit hati kalo ke supermarket. Soalnya seringkali kita mau minta sesuatu agak nggak digape, tapi begitu kita ngomongnya pake inggris (secara disini tkw2 ngomongnya pake bhs arab) baru deh mereka lebih menghargai. Bahkan pernah, pas ramadhan, waktu kita mau mudik dan belanja kurma di carrefour, penjualnya tuh nggak yakin kalo kita mampu bayar, soalnya kita belanjanya kan banyak banget, dia berulang kali ngomong itu sekilo harganya berapa jadi semua totalnya bakalan segini. Ibu udah bilang, yes, i know, so what?. Tapi dia nggak ngelayanin juga. Ayah sampe sebal dan bilang kamu mau ngelayanin nggak sih? Dasar india nyebelin! Akhirnya dia mau juga ngelayanin setelah ngeliat kereta belanjaan kita yang super penuh barang. Hhhhh...

Oh ya, disini tuh semua kantor pemerintahan, termasuk masjid dan sebagian bank dibedain antara yang khusus buat perempuan dan laki2. Dan seringkali kantor laki2 dan perempuan tuh berjauhan. Jadi, aduh repotnya kalo mau ngurus apa2. Bahkan disini ada juga taman dan pantai khusus perempuan. Tapi untunglah disini nggak seketat di Saudi yang nggak ngebolehin perempuan keluar sendirian dan mengharuskan perempuan pake gamis hitam ala arab.

Pertama kali nyampe disini, kesan ibu sama abu dhabi biasa aja. Masalahnya ternyata wajah kotanya tuh jauh beda dari yang ibu bayangkan. Tadinya ibu udah bersemangat soalnya ibu pikir bakalan tinggal di kota dengan nuansa arab yang kental. Tapi waktu nyampe....Loh, kok yang ada cuma gedung-gedung tinggi di semua sudutnya. Bahkan arsitekturnya pun nggak ninggalin nuansa arab sama sekali. Kecewa deh... (mungkin beda ya kalo kita ke oman ato ke yaman?)

Ibu juga kecewa karena disini souk2 (pasar tradisional arab) juga udah hampir terkikis habis. Padahal katanya pasar kan cerminan kultur masyarakatnya? Cuma ada satu dua souk. Misalnya soukh di Madina Zayed yang jualan baju2 dan aksesoris, atau meena souk dan iranian souk yang jualan karpet. Yang dua terakhir pun letaknya jauh dari kota, tepatnya di dekat pelabuhan Zayed.

Oh ya, dulu bayangannya bakalan sering liat onta sama gurun pasir. Ternyata sampe sekarang belum pernah loh. Hehehe...yah, secara abu dhabi udah dipermak habis-habisan, jadi mau liat onta sama gurun dimana? Yang ada cuma tinggal cuaca panas dan angin gurun yang kenceeeeenggg sekaleee, apalagi kalo summer suka dibarengi debu. Jadi siap2 jangan pake rok yang bahannya mudah berkibar (masalahnya disini banyak orang india yang akan dengan senang hati melototin kalo baju kita terbuka sedikit), dan bawa sapu tangan buat nutup mata biar nggak kemasukan pasir.

Tapi, kalo rumah2 (disini orang nyebutnya villa) bangunannya masih gaya arab sih, dengan dinding batu tebal dan jendela-jendela melengkung.
Wah, adek udah ribut minta diperhatiin. Hehe.... Cerita tentang makanannya lain kali aja yaa....

Saturday, September 15, 2007

Ramadhan Kariim

Ini hari ketiga ramadhan pertama kita di abu dhabi. Di Abu dhabi, ramadhan dibuka dengan fire works party di pantai corniche. So, sejak pagi kita sudah warning mas Wisang supaya bobok siang biar nanti nggak ngantuk waktu nonton fire works. Soalnya pengumumannya fire worksnya baru dimulai jam 9 malam. Nah setelah buka puasa, kita buru-buru siap-siap berangkat nih, biar nanti dapat tempat yang enak buat nonton kembang apinya. Pas keluar, eh, kok sepi yaa? Apa orang-orang masih pada tarawih jadi belum berangkat atau pada males nonton kembang api? Kalo gitu berarti kita belum telat nih, artinya bisa dapat tempat enak buat nggelar tikar di pinggir pantai nih. Hehehe...
Pas kita dah hampir nyampe dan mau nyebrang ke corniche, ternyata.....Gubrakkkk!!! Jalanan udah penuh!!! Kita aja nyebrangnya harus antri! Hehe...ternyata semuanya pada niat nonton nih. Mas Wisang sama adek Nisrin bengong, habis belum pernah lihat keramaian kayak gini selama kita di Abu dhabi. Pas nyampe di pantai, woaaa...ternyata lebih penuh lagi. Hihi...kita sampe bingung mo duduk dimana. Ayah ngajak kita jalan terus sambil nyari-nyari tempat, siapa tau ada yang enak dan kosong. Hehe...
Akhirnya dapat tempat juga. Ibu langsung didaulat ayah nyalain handycam sama jepret-jepret. Curangggg!! Ibu kan pingin difoto dan dishoot juga. Hiks... Tapi kata ayah, gantian dong, biasanya kan ayah, tapi kan bukan pas moment pesta kembang api gini ya?? Tapi btw, kembang apinya belum mulai sih, jadi masih nyante. Trus jadilah kita bengong sambil nunggu kembang apinya mulai. 5 menit 10 menit sampe setengah jam kok belum mulai juga ya? Padahal udah jam setengah 10. Mas Wisang udah mulai merengek nanya-nanya kenapa kembang apinya kok belum muncel juga. Hhhh..ibu sampe bingung, kenapa juga disini ada jam karet segala. Mana kita saltum lagi. Ibu kira kan di luar dingin, soalnya kemarin-kemarin udah mulai enak cuacanya. Jadi semua pake jaket. Ternyata cuacanya so so aja. Jadi ya agak keringetan deh kita...
Jam 21.40 baru deh kembang apinya mulai. Baguss!! Hehe...soalnya belum pernah lihat fire works party sih, jadi ya agak ndeso. Hihihi... Tapi kata ayah kalo di amrik lebih lama loh, padahal menurut ibu itu udah lama banget durasinya. Sampe pegel nggendong adek, ayah sibuk ngerekam pake handycam.
Nggak tau kenapa, mas Wisang selalu takut dengar suara yang keras, bahkan sejak mash di perut ibu dulu ibu udah ngerasa loh. Soalnya tiap nyalain mesin cuci di tempat mbah ibu (ibunya ayah), ibu ngerasa mas Wisang tuh pegangan dan gelisah geraknya denger suara mesin cuci. Pas nonton fire works ini juga begitu, mas Wisang nontonnya sambil tutup telinga. Soalnya kan ada suara jedar jedernya. Dan, akhirnya merengek lagi deh, ngajak pulang.
Tapi akhirnya mau juga mas Wisang nonton sampe selesai. Dan pas jalan pulang antrian nyebrangnya lebih heboh lagi. Kasihan deh yang pake mobil, jalanan penuh, mana banyak anak kecil, stroller bertebaran. Jadi mereka terpaksa ngalah, ngasih jalan buat pedestriannya. Hehe...Trus kita ketemu tetangga, pakde Bambang ( namanya sama dengan tetangga kita di Duri ya? Hehe..) sama budhe Ester. Mereka cuma berdua soalnya anaknya kan udah kuliah di Doha. Jadilah kita jalan bareng sampe rumah....Hhhh..tinggal tarawihnya nih...padahal mata rasanya udah beratttt banget. Hikks....

Tuesday, September 11, 2007

Kenangan di Duri

Dah lama nggak denger kabar tentang Duri. Jadi inget masa-masa kita di sana dulu. Ramenya arisan-arisannya(campur-campur!! masih rame nggak ya arisannya??), empek-empek weni, siomay jakarta, bakso pak dhe, ushulluddin (bentar lagi puasa, pasti dah mulai rame ya pasar kaget ramadhannya), commissary, pasar pak edy, si renynya marigold, kue-kuenya mbak rien doni sama mbak reri, sampe abang-abang sopir taksi yang udah mulai akrab sama wisang .....(secara Wisang hobi banget naik taksi gitu loh dan tak ada hari tanpa naik taksi ke commissary atau ushulluddin).
Kata Ana, rumah kita di krakatau 308 udah ada yang nempatin. Si Adi, pengantin baru. Sempat kenal sih. Anak ugm juga. Dulu dia (sama Cahyo) malah pernah kita minta tolong jagain rumah waktu kita mudik lumayan lama. Mereka masih pegawai baru waktu itu, jadi mungkin nggak enak kali ya kalo mo nolak...hihi... Trus rumahnya dah nggak karuan bentuknya (tamannya maksudnya). Padahal taman kita dulu boleh dibanggain lho. Banyak bunga nan cantik. Iya lah kita kan rajin...(pak gimin, tukang kebun kita yang rajin maksudya. hehe...). Ternyata bunga-bunga itu udah pada ngungsi ke halaman sebelah (dasar Bu ana! Hehe...), dan bunga-bunga di pot juga udah pada pindah ke rumah mbak virda.
Tapi yang paling kukangenin manusia2nya. Apa kabar ya semua? Dulu kita suka bakar-bakar ikan kalo weekend. Apalagi waktu masih tinggal di wisma. Kadang-kadang si bapak-bapak pada berjuang dulu nyari ikan di empang (mancing maksudnya), trus baru deh kita olah rame-rame (rame2 itu maksudnya bapak-bapak yang kerja keras bersihin ikan, mbumbuin, bakar sampe mateng dan siap disantap. ibu-ibu? rame-rame juga sih, ngerumpinya maksudnya. hehe). Waktu itu kita masih pada hamil (Wisang belum lahir). Jadi sering banget makan rujak mangga secobek bersama bareng ana, mbak donna, reni, mbak widya,mbak gita, mbak lily. Hiks... Nggak kebayang kalo one day Wisang dah gede trus ketemu Yesha, Shafa, Zidan, Shasha, Quinn. Masih kenal nggak ya mereka. Waktu itu hampir tiap minggu ayah ngibulin mas dicky yang juragan mangga (secara halaman rumahnya penuh pohon mangga), katanya minta mangga buat ibu yang lagi hamil. Padahal yang ngidam mangga tiap hari tuh ayah. Hehehe....
Terus yang seru lagi, karena kita punya tetangga idaman di krakatau. Jeng ana dan om bambang. Hehe... Kangen kiriman-kiriman makanan dan oleh-olehnya kalo abis mudik niy! Hiks..bisa nggak ya punya tetangga kayak gitu lagi.....?? Apalagi Wisang juga dekat sama mereka, jadi kadang-kadang mereka jadi tempat penitipan Wisang (jadi inget waktu hari2 terakhir, wisang dapat kado perpisahan cantik, foto bertiga sama om bambang dan tante ana. thanks ya jeng, it's so sweet...). Oh, what a wonderfull time in Duri......

Saturday, August 11, 2007

Kunjungan Pertama

Hari ini Wisang sama adek ketemu teman baru. Om Boy-tante Frisa berkunjung ke rumah. Anaknya ada 2. Yang pertama Bang Hilmi (Wis salah manggil mas Bang terus, bingung kali. hehe...) dah 5 tahun, baru mau masuk sekolah di canadian school. Yang kedua, Rafi, baru 10 bulan. Mereka baru pindah juga dari Indonesia, Balikpapan tepatnya. Jadi ngomongnya masih pake bahasa Indonesia. Pertama ketemu, Wisang masih takut-takut. Dikiranya Bang Hilmi ngomongnya pake bahasa Inggris. Kan Wisang masih belajar, jadi grogi mau nyapa. hehe... Tapi ternyata Bang Hilminya juga sama-sama grogi. Jadi ada jeda sebelum mereka mau main bareng. Setelah itu? Wow! Langsung deh, Wisang ngeluarin seluruh harta bendanya dari kamarnya. Ruang tamu tumplek blek penuh mainan (ibu langsung komat kamit biar entar nggak teler beresin rumah). Mereka lumayan lama di rumah. Ayah sama Om Boy asyik ngobrol sambil nonton liga Inggris. Ibu? Biasalah. Ngerumpiin gimana rasanya di abu dhabi sama tante Frisa.
Mereka sebelumnya ternyata pernah tinggal 3 tahun di Paris. Tante Frisa cerita gimana bedanya tinggal di sini dengan di Paris. Misalnya, kalo lagi jalan bawa stroller, di Paris selalu ada yang menawarkan bantuan kalo pas lewat tangga/undakan, transportasi mudah (catatan: kita pernah gosong di marina mall gara-gara ngantri taksi 2 jam!).
Dan ternyata mereka juga sama. Sering dikira orang Philipina. Mungkin memang disini jarang ada ekspat orang Indonesia. Jadi orang sering salah duga. Apalagi kita sekeluarga sipit-sipit. hehe...Oh ya, waktu pertama datang. Mereka kaget. Soalnya rumah kita sudah komplit. Masalahnya mereka milih bawa perabotan dari Indonesia, dan barangnya baru datang akhir agustus, padahal mereka dah sampai di abu dhabi sejak akhir juli. Sementara kita milih dapat uang furniture, jadi dari Indonesia cuma modal baju sama minyak telon doang. Semuanya beli disini. Dan untungnya ada temen ayah, orang jepang yang mau pindah. Jadi kita langsung nyewa bekas apartemennya all in dengan seluruh furniturnya. Beruntungnya kita....